Memuncaki Cinta Suci
Oleh : Muhammad Alif Santosa
“YA Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu.
Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena berharap masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku beribadah kepada Engkau hanya karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu,
maka janganlah Engkau haramkan aku melihat keindahanmu yang azali,"
Demikian Sayyidah Robi'ah Al-Adawiyah mengungkapkan isi hatinya. Ia merupakan sufi wanita asal Kota Basrah, Irak yang lahir antara tahun 713-717 Masehi, atau 95-99 Hijriah. Dan meninggal sekitar tahun 801 Masehi/185 Hijriah. Dengan syair tersebut, setidaknya kita bisa mengenal apa itu cinta. Sayyidah Robi'ah bukan hanya mengenal cinta, namun ia telah mencapai puncaknya cinta. Ia hanyut dalam lautan tauhid.
Kecintaannya yang begitu besar terhadap Yang Maha Kuasa, membuatnya tidak tertarik kepada kehidupan duniawi, sehingga ia mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah.
Pelajaran tentang cinta, bisa kita ambil dari kisah hidup Sayyidah Robi'ah Al-Adawiyah. Cintanya lahir bukan karena nafsu tapi dari jiwa yang suci. Hatinya selalu terjaga. Tak sedetik pun ia lewatkan untuk selalu bersama Sang Maha Pencipta. Cinta yang bukan hanya sekadar di mulut, namun meliputi seluruh jiwa raganya. Seluruh aktivitas hidupnya ia tujukan kepada Sang Kholik. Karenanya, apa pun yang ia alami dalam hidupnya, ia selalu bersyukur untuk meraih ridho Allah.
Barangkali, itulah yang disebut dengan manisnya iman. Rosulullah Muhammad SAW dalam hadist yang disampaikan sahabat Anas bin Malik lalu diriwayatkan Imam Bukhori mengatakan, ada tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman. Pertama, menjadikan Allah dan Rasul-Nya, lebih ia cintai dari selain keduanya. Kedua, mencintai seluruh ciptaan Allah karena kecintaannya terhadap Allah. Ketiga, membenci untuk kembali kepada kekafiran.
Tidak mudah memang untuk meraih kedudukan seperti Sayyidah Robi'ah Al-Adawiyah. Namun, jika kita menggunakan logika sederhana tentang cinta, maka kita pun bisa. Cinta butuh perjuangan. Maka berjuanglah. Cinta harus dimulai dengan mengenal. Maka mulailah mengenal Allah dengan sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, firman-firman-Nya yang tertuang dalam Al-Quran. Kita harus tahu, apa yang disukai Allah dan yang tidak disukai Allah.
Dan untuk mencapai jalan menuju Allah, pintunya adalah Nabi Muhammad SAW. Kenali nabi, selami kehidupan nabi. Anda bisa memulainya dengan membaca buku tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad. Karena, di sana kita akan banyak menemui kemuliaan dan keluhuran akhlak nabi. Kenali para sahabat nabi, tabiin, dan tabiut tabiin.
Dengan demikian, Islam yang kita peluk sejak lahir dengan kalimat syahadat, benar-benar menjiwai kehidupan kita. Dan menjalankan syariat pun menjadi sebuah kebutuhan. Kesadaran untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan sunnah, muncul karena rasa cinta. Kemudian, pahami makna di balik ayat Al-Quran dan hadis dengan bimbingan guru. Karena kita hidup tidak sezaman dengan nabi, maka ikuti ulama, cintai ulama. Karena, ulama merupakan perwaris para nabi. Semoga kita bisa menikmati manisnya iman. Wallahu A'lam Bishawab.***